Musim Panas, 80 M. Kaisar Titus membuka Amfiteater Flavia—Colosseum—untuk umum. Tontonannya menampilkan wanita yang berpakaian seperti dewi Diana. Mereka memegang tombak. Mereka berburu babi hutan. Atau begitulah yang diklaim oleh para penulis pada masa itu.
Selama berabad-abad, para sejarawan bertanya-tanya apakah venatrices —wanita pemburu binatang buas—benar-benar ada atau hanya propaganda mitologis. Mereka yang skeptis berpendapat bahwa hal tersebut mungkin merupakan hal baru yang langka, hanya sekedar keingintahuan saja, dan bukan tradisi terstruktur. Catatan tertulis sangat langka. Tentu saja seni keramik mengisyaratkan gladiator wanita. Narapidana tentu saja diumpankan ke singa dan beruang, namun perempuanlah yang menjadi korban, bukan pejuang. Batas antara tontonan dan pembantaian sangatlah tipis.
Lalu muncullah buktinya. Tidak dalam teks. Di dalam batu.
Sebuah Mosaik Berkeping-keping
Buktinya tersembunyi dalam pecahan mosaik besar abad ketiga yang berasal dari Reims, Prancis. Jean Charles Loriquet menemukannya kembali pada tahun 1860. Pengeboman Perang Dunia I pada tahun 1917 sebagian besar menghancurkannya. Sebagian besar merupakan kehilangan yang tragis. Tapi tidak seluruhnya.
Hanya satu panel yang selamat secara fisik. Loriquet meninggalkan gambar detail sisanya sebelum menghilang. Sketsa itu penting. Salah satu panel, yang kini hilang, menggambarkan sosok yang memegang cambuk dan sesuatu yang tampak seperti belati. Atau kain. Detailnya tidak jelas.
Inilah intinya: Catatan Loriquet anehnya tidak jelas. Dia menggunakan istilah netral gender. Dia tidak menyebutkan ciri fisik yang paling jelas. Ia rindu sosok itu bertelanjang dada.
Pengawasan ini penting karena dua sosok lain dalam mosaik tersebut jelas-jelas adalah laki-laki. Berjenggot. Berdada lebih datar. Memegang cambuk. Sosok anonim itu adalah satu-satunya yang tidak mengenakan penutup dada. Pilihan artistik? Mungkin. Sebuah sinyal yang disengaja kepada pemirsa tentang siapa yang berdiri di sana? Sangat.
Melihat Apa yang Orang Lain Lewatkan
Alfonso Manas, seorang sejarawan olahraga, melihat gambar tersebut dan berhenti. “Saya segera menyadari bahwa dia adalah seorang wanita.”
Manas tidak menebak-nebak. Ia menghubungkan data visual dengan teks sejarah. Perlengkapan wanita itu cocok dengan akun venatrix. Dia memegang cambuk, kemungkinan besar sedang menggiring macan tutul. Di sebelahnya berdiri seorang venator —seorang pemburu binatang jantan—bersenjata dan siap menyerang. Ini adalah upaya yang terkoordinasi. Pembunuhan yang dikoreografikan.
“Ini adalah tampilan visual pertama yang diketahui dari seorang wanita yang melawan binatang buas di arena Roma.”
Itulah kesimpulan Manas. Dia tidak hadir begitu saja. Dia berpartisipasi sebagai komponen yang setara dalam perburuan.
Mengapa Itu Penting
Michael Carter, seorang sejarawan yang tidak terlibat dalam penelitian ini, menyebutnya sebagai pekerjaan detektif yang sangat bagus. Ada implikasi yang lebih dalam di sini, yang mengubah cara kita memandang obsesi masyarakat Romawi terhadap kekerasan dan gender.
Dia bukan korban yang dihukum damnatio ad bestias —di situlah para tahanan dimakan. Dia merasa terhormat. Terlatih. Dihormati. Seorang pelindung kaya membayar kemiripannya dengan sebuah karya seni permanen. Anda tidak mengenang seseorang yang Anda kasihani.
“Fakta bahwa seorang pria kaya memerintahkan wanita ini untuk tampil di mosaik menunjukkan kekaguman yang besar dari para penonton.”
Jadi mengapa mereka berhenti?
Gladiator wanita—yang bertarung satu sama lain dengan pedang dan jaring—mati lebih awal. Kerumunan menjadi bosan, atau Gereja turun tangan, atau mungkin masyarakat menjadi tidak nyaman. Tapi pemburu binatang bertahan lebih lama. Puluhan tahun, mungkin satu abad lebih. Selera masyarakat terhadap rasa bahaya yang spesifik ini tidak pernah pudar.
Wanita ternyata lebih baik dalam berburu daripada yang kita duga. Mungkin itulah pelajarannya. Atau mungkin karena masyarakat Romawi menginginkan darah, apa pun jenis kelaminnya. Mosaiknya hancur. Kaisar jatuh.
Tapi para pemburu? Mereka ada di sana. Cukup nyata untuk meninggalkan jejak.
