Gempa berkekuatan berkekuatan 7,7 skala Richter terjadi di lepas pantai timur laut Honshu, pulau terbesar di Jepang, pada Senin sore. Meskipun dampak langsungnya tidak menimbulkan korban jiwa atau kerusakan struktural besar, peristiwa seismik ini telah memicu peningkatan kewaspadaan di seluruh wilayah.

Gempa bumi terjadi di Palung Jepang, zona subduksi tempat lempeng tektonik Pasifik menukik ke bawah lempeng Amerika Utara. Proses geologis ini merupakan pendorong utama aktivitas seismik di wilayah tersebut, sehingga menjadikan wilayah tersebut sebagai titik fokus pemantauan gempa bumi.

Ancaman “Gempa Besar”: Memahami Risikonya

Setelah gempa terjadi, Badan Meteorologi Jepang (JMA) mengeluarkan peringatan tsunami dan, yang lebih penting, “peringatan gempa besar”. Peringatan ini memperingatkan bahwa kemungkinan terjadinya gempa bumi berkekuatan 8,0 atau lebih besar saat ini jauh lebih tinggi dari biasanya.

Untuk menempatkan risiko saat ini ke dalam perspektif:
* Kemungkinan: Para ahli memperkirakan 1% kemungkinan terjadinya gempa besar dalam beberapa hari mendatang.
* Konteksnya: Meskipun 1% mungkin terdengar rendah, ilmuwan Amilcar Carrera-Cevallos mencatat bahwa angka ini 10 kali lebih tinggi dibandingkan risiko dasar.
* Taruhannya: Gempa bumi berkekuatan 8,0 secara eksponensial lebih dahsyat dibandingkan gempa berkekuatan 7,7 skala richter dan dapat memicu tsunami yang jauh lebih dahsyat.

Mengapa Satu Gempa Bumi Dapat Memicu Gempa Bumi Lainnya

Dalam sebagian besar rangkaian seismik, peristiwa terbesar adalah “guncangan utama”, diikuti oleh serangkaian “gempa susulan” yang lebih kecil. Namun, ahli seismologi memperingatkan bahwa hubungan antara gempa bumi sangatlah kompleks.

Ketika patahan besar pecah, maka akan melepaskan sejumlah besar tekanan tektonik yang terpendam. Stres ini tidak hilang begitu saja; itu didistribusikan kembali ke kesalahan sekitarnya. Hal ini dapat menyebabkan dua skenario berbeda:
1. Urutan Standar: Gempa berkekuatan 7,7 SR adalah gempa utama, dan gempa susulan yang terjadi hanyalah gempa susulan yang berkurang.
2. Skenario “Gempa Awal”: Gempa berkekuatan 7,7 skala Richter sebenarnya adalah gempa pendahuluan, dan “gempa besar” yang sebenarnya—sebuah gempa besar yang dahsyat—masih akan terjadi.

“Gempa bumi membuat gempa bumi lain lebih mungkin terjadi,” jelas ahli geologi gempa Wendy Bohon.

Kesiapsiagaan dan Respon Masyarakat

Penggunaan “peringatan gempa besar” oleh pemerintah Jepang merupakan perubahan strategis yang relatif baru dalam manajemen bencana. Berbeda dengan perkiraan spesifik, yang memperkirakan kapan dan di mana suatu peristiwa akan terjadi, saran berfungsi sebagai panggilan untuk bersiap.

Bagi jutaan orang yang tinggal di sepanjang pantai, hal ini berarti:
– Meninjau jalur evakuasi.
– Mempersiapkan “tas go” darurat dengan perbekalan penting.
– Tetap waspada terhadap peringatan tsunami.

Meskipun sejarah menunjukkan bahwa banyak gempa bumi besar tidak diikuti oleh peristiwa yang lebih besar lagi, tekanan geologis yang terjadi saat ini membuat skenario terburuk tidak bisa dikesampingkan.


Kesimpulan
Meskipun kemungkinan besar aktivitas seismik akan terus menurun, peningkatan kemungkinan terjadinya gempa besar sebesar 10 kali lipat memerlukan kehati-hatian yang ekstrim. Untuk saat ini, Jepang masih dalam kondisi siaga tinggi, menyeimbangkan kemungkinan ilmiah dengan kebutuhan kesiapan masyarakat.