Pada tanggal 7 April, Anthropic membuat keputusan yang mengejutkan sektor teknologi dan keuangan: mengumumkan pembuatan model AI baru yang inovatif, Mythos, namun menolak untuk merilisnya ke publik.
Ini adalah langkah yang jarang terjadi dan berisiko tinggi. Terakhir kali pengembang besar—OpenAI dengan GPT-2 pada tahun 2019—menahan model karena masalah keamanan, industri ini berada di era yang berbeda. Alasan Anthropic sangat jelas: kemampuan model ini menimbulkan risiko besar terhadap perekonomian, keselamatan publik, dan keamanan nasional.
Pedang Kecerdasan Bermata Dua
Menurut dokumen teknis setebal 245 halaman, Mythos mewakili lompatan besar dalam kecerdasan buatan. Ia berfungsi dengan kecanggihan insinyur perangkat lunak senior, yang mampu mengidentifikasi bug halus dan memperbaiki kesalahannya sendiri. Penalaran matematisnya juga belum pernah terjadi sebelumnya, mengungguli model papan atas Anthropic sebelumnya, Opus 4.6, sebesar 31 poin persentase di Olimpiade Matematika USAMO 2026.
Namun, “kecerdasan” yang sama menjadikan Mythos senjata ampuh untuk perang dunia maya. Kemampuan model untuk mengidentifikasi dan mengeksploitasi kerentanan perangkat lunak sangat canggih sehingga dapat mengungguli hampir semua pakar manusia. Temuan utama dari pengujian Anthropic meliputi:
– Kerentanan Universal: Model ini mengidentifikasi kelemahan kritis di setiap sistem operasi utama dan browser web yang diuji.
– Risiko yang Belum Ditambal: 99% kerentanan yang ditemukan Mythos belum diperbaiki oleh pengembang.
– Tingkat Keberhasilan Tinggi: Institut Keamanan AI (AISI) Inggris melaporkan bahwa Mythos berhasil menyelesaikan tugas peretasan tingkat ahli 73% dari keseluruhan waktu —suatu prestasi yang sebelumnya tidak mungkin dilakukan oleh AI mana pun.
Project Glasswing: Penahanan Defensif
Daripada meluncurkannya ke publik, Anthropic memilih peluncuran yang terkendali dan bersifat defensif yang dikenal sebagai Project Glasswing. Akses dibatasi hanya untuk sekelompok raksasa global tertentu, termasuk Microsoft, Google, Apple, Amazon Web Services, JPMorgan Chase, dan Nvidia.
Tujuan dari inisiatif ini adalah untuk memungkinkan organisasi-organisasi ini menggunakan model tersebut untuk memindai jaringan mereka sendiri dan menambal kerentanan sebelum pihak jahat dapat mengeksploitasinya. Strategi “penggunaan defensif” ini merupakan upaya untuk mengubah senjata potensial menjadi perisai.
Debat Pakar: Ancaman Nyata atau Drama Humas?
Terlepas dari nada kekhawatiran dari Anthropic, komunitas keamanan siber sangat terpecah mengenai apakah Mythos merupakan peristiwa “angsa hitam” atau sekadar langkah logis berikutnya dalam evolusi AI.
Pandangan Skeptis
Beberapa ahli berpendapat bahwa pengumuman Anthropic mungkin lebih berkaitan dengan hubungan masyarakat dan juga bahaya.
– Peter Swire, seorang profesor di Georgia Tech, mencatat bahwa banyak orang di lapangan memandang hal ini sebagai “hampir sama”—sebuah kemajuan yang diharapkan dari kemampuan AI.
– Ciaran Martin, mantan CEO Pusat Keamanan Siber Nasional Inggris, memperingatkan terhadap pemikiran “apokaliptik”. Dia menunjukkan bahwa selama pengujian, Mythos menghadapi pertahanan perangkat lunak yang jauh lebih lemah daripada yang ditemukan di dunia nyata, membandingkan hasilnya dengan seorang striker profesional yang bermain melawan penjaga gawang pemula.
Respon Institusional
Terlepas dari perdebatan tersebut, dunia keuangan bereaksi dengan hati-hati. Bank-bank Jerman sedang berkonsultasi dengan regulator, dan Bank of England telah mengintensifkan pengujian risiko AI.
Para ahli menyarankan bahwa meskipun bahaya sebenarnya lebih rendah dari klaim Anthropic, organisasi memiliki “insentif rasional” untuk bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. Seperti yang dicatat oleh Swire, risiko utamanya adalah Mythos akan mempermudah peretas untuk mengubah kelemahan perangkat lunak yang diketahui menjadi eksploitasi yang fungsional dan otomatis.
Intinya: Saat para ahli memperdebatkan apakah Mythos merupakan ancaman yang mengakhiri dunia atau merupakan evolusi yang dapat dikelola, kemampuannya untuk mengotomatiskan peretasan tingkat tinggi telah memaksa perubahan global dalam cara lembaga keuangan dan teknologi melakukan pendekatan terhadap keamanan siber.




















