Sebuah studi baru-baru ini yang diterbitkan dalam Science Advances telah mengukur krisis yang semakin meningkat di pusat-pusat perkotaan pesisir Amerika. Meskipun kenangan akan Badai Katrina dan Sandy masih jelas, penelitian menunjukkan bahwa ancaman bencana banjir bukanlah peninggalan sejarah namun merupakan kenyataan yang semakin meningkat, yang didorong oleh pemanasan iklim dan kerentanan sosial yang sistemik.
Skala Ancaman
Studi ini mengungkap perbedaan besar dalam cara kota-kota pesisir menghadapi risiko banjir. Meskipun beberapa kota di AS termasuk dalam daftar berisiko tinggi—termasuk Houston, Miami, Charleston, dan Norfolk —New York City dan New Orleans menonjol karena berbagai alasan:
- Kota New York: Memiliki jumlah total orang rentan terbesar di Amerika Serikat. Sekitar 4,7 juta penduduk menghadapi risiko banjir pada tingkat tertentu, dan 4,4 juta penduduknya berisiko mengalami kerusakan “ekstrim”.
- New Orleans: Menghadapi ancaman proporsional yang jauh lebih tinggi. Sebanyak 98% penduduk kota berisiko terkena banjir.
Kesenjangan ini menyoroti realitas geografis yang penting: meskipun New York menghadapi potensi dampak kemanusiaan yang sangat besar, New Orleans hampir seluruhnya terkena dampak gelombang pasang.
Kerugian Manusia: Kesenjangan Ketimpangan yang Meningkat
Salah satu temuan paling signifikan dari penelitian ini adalah bahwa risiko banjir tidak terdistribusi secara merata. Penelitian yang dipimpin oleh Wanyun Shao dari Universitas Alabama ini menemukan bahwa banjir berdampak besar terhadap kelompok masyarakat yang secara sosioekonomi rentan.
Menurut data, mereka yang paling berisiko terkena dampaknya meliputi:
– Individu yang hidup di bawah garis kemiskinan.
– Komunitas minoritas.
– Orang tanpa ijazah SMA.
– Kelompok umur yang paling rentan: anak balita dan lansia.
Persimpangan antara bahaya lingkungan dan kesenjangan sosial berarti bahwa masyarakat yang paling tidak siap untuk pulih dari suatu bencana seringkali merupakan kelompok yang paling mungkin terkena dampaknya.
Hubungan Iklim: Mengapa Keadaan Menjadi Lebih Buruk
Penyebab utama risiko ini adalah pemanasan bumi. Ketika suhu global meningkat, lautan mengalami peningkatan penguapan, sehingga memompa lebih banyak uap air ke atmosfer. Hal ini mengarah pada siklus berbahaya:
1. Peningkatan kelembapan menyebabkan badai yang lebih hebat dan sering terjadi.
2. Curah hujan yang lebih deras terjadi dalam waktu yang lebih singkat.
3. Batas kejenuhan tercapai, yang berarti tanah tidak dapat menyerap air, sehingga mengakibatkan limpasan air yang cepat dan merusak serta banjir.
Dampaknya adalah potensi kerugian harta benda senilai miliaran dolar dan, yang paling kritis, hilangnya banyak nyawa.
Pertarungan Antara Adaptasi dan Retret
Para pengambil kebijakan menghadapi pilihan sulit antara membangun pertahanan dan mengubah secara mendasar tata kota. Studi ini menyarankan beberapa strategi mitigasi:
Rekayasa dan Solusi Berbasis Alam
- Infrastruktur Keras: Membangun tanggul, tanggul, dan tembok laut untuk memblokir air.
- Penyangga Alami: Melestarikan lahan basah dan muara sebagai “spons alami” yang menyerap kelebihan air.
- Permeabilitas Perkotaan: Mengganti beton tidak berpori di area seperti tempat parkir dengan material permeabel agar air dapat meresap ke dalam tanah.
Rintangan Ekonomi
Meskipun terdapat pilihan-pilihan ini, implementasinya terhambat oleh kepentingan ekonomi yang sangat besar. Jeremy Porter, seorang profesor sosiologi di City University of New York, mencatat bahwa tingginya nilai real estate di tepi laut membuat “pengunduran diri yang terkelola”—menjauhkan orang dari zona banjir—menjadi sangat sulit.
Alih-alih mengembalikan lahan ke kondisi aslinya, banyak pemilik properti memilih adaptasi, seperti mendirikan rumah panggung. Meskipun hal ini memungkinkan masyarakat untuk tetap tinggal di rumah, hal ini tidak mengatasi masalah mendasar mengenai penggunaan lahan di zona berisiko tinggi.
“Kita tidak boleh bosan mengulanginya,” kata Shao. “Pesannya sangat penting.”
Kesimpulan
Temuan-temuan ini menggarisbawahi bahwa banjir di wilayah pesisir bukan lagi sebuah ancaman jangka panjang, melainkan sebuah bahaya yang ada saat ini dan secara tidak proporsional berdampak pada kelompok masyarakat yang paling rentan. Untuk mengatasi krisis ini diperlukan keseimbangan yang kompleks antara teknik, pelestarian lingkungan, dan keputusan ekonomi yang sulit terkait pembangunan perkotaan.




















