Pengumuman NASA baru-baru ini mengenai misi Skyfall – sebuah rencana untuk mengerahkan helikopter robotik ke Mars pada bulan Desember 2028 – dibayangi oleh pengungkapan yang jauh lebih signifikan: misi tersebut akan didukung oleh pesawat ruang angkasa bertenaga nuklir yang pertama dari jenisnya. Hal ini menandai perubahan bersejarah, seiring dengan persiapan badan antariksa AS untuk mengintegrasikan tenaga nuklir ke dalam eksplorasi ruang angkasa, beberapa dekade setelah konsep sebelumnya terhenti di Bumi.
Kejutan pada Sistem
Pengumuman tersebut mengejutkan komunitas ilmu pengetahuan planet, karena misi Mars bertenaga nuklir tidak termasuk dalam rekomendasi resmi NASA. Batas waktu yang padat – akhir tahun 2028 – menimbulkan kekhawatiran tentang kelayakannya, mengingat semakin kompleksnya tenaga penggerak nuklir. Meskipun terdapat rintangan-rintangan ini, Administrator NASA Jared Isaacman telah menegaskan komitmen badan tersebut: “Setelah melakukan penelitian selama beberapa dekade dan menghabiskan miliaran dolar, Amerika pada akhirnya akan mulai mengembangkan tenaga nuklir di luar angkasa.”
Cetak Biru Teknis: Kebebasan Reaktor Luar Angkasa-1 (SR-1).
Misi ini berpusat di sekitar SR-1 Freedom, pesawat ruang angkasa bertenaga nuklir berkekuatan 20 kilowatt. Banyak komponen yang sedang dikembangkan atau sudah dibangun, dengan integrasi terdepan dari NASA dalam kemitraan dengan Departemen Energi. Reaktornya sendiri berbeda dari reaktor pos terdepan bulan yang direncanakan pada tahun 2030. SR-1 Freedom akan memanfaatkan perangkat keras yang digunakan kembali dari inisiatif Artemis yang dibatalkan, khususnya Elemen Daya & Propulsi (PPE), yang sebelumnya dimaksudkan untuk misi pengalihan asteroid.
Pesawat luar angkasa ini akan menggunakan penggerak listrik nuklir, mengubah panas reaktor menjadi listrik untuk menggerakkan pendorong gas xenon – sebuah metode yang menghindari pembuangan radioaktif. Bahan bakarnya adalah uranium dengan tingkat pengujian tinggi dan pengayaan rendah, mengikuti strategi yang dipelopori oleh Demonstration Rocket for Agile Cislunar Operations (DRACO) yang bernasib buruk, yang kemudian ditinggalkan karena adanya hambatan regulasi.
Mengapa Sekarang? Pergeseran Kebijakan dan Momentum
Dorongan baru terhadap tenaga nuklir berasal dari perubahan kebijakan yang menyederhanakan peraturan nuklir, ditambah dengan dukungan berkelanjutan dari Gedung Putih. Empat perintah eksekutif yang ditandatangani tahun lalu, bersamaan dengan peningkatan kerja sama dari Departemen Energi, telah menciptakan lingkungan yang lebih menguntungkan bagi reaktor nuklir berbasis ruang angkasa.
Kekhawatiran dan Bantahan
Beberapa ahli mempertanyakan logika misi tersebut, dengan alasan bahwa Mars terlalu dekat dengan tenaga penggerak listrik nuklir sehingga mengurangi waktu perjalanan secara signifikan. Tenaga surya mungkin lebih efisien untuk tujuan di dalam tata surya. Namun, bahkan para kritikus mengakui bahwa peluncuran yang sukses – bahkan jika ditunda – akan menunjukkan komitmen baru NASA terhadap sistem propulsi yang canggih.
Gambaran Lebih Besar: Merebut Kembali Visi NASA
Skyfall dan SR-1 Freedom menandakan kembalinya visi eksplorasi ruang angkasa yang berani dan berjangka panjang yang mendefinisikan dekade-dekade awal NASA. Seperti yang dikatakan oleh ilmuwan planet Paul Byrne, “Ini adalah hal yang seharusnya dilakukan NASA pada tahun 1970an.” Penentuan waktu misi ini, yang bertepatan dengan berakhirnya masa pemerintahan potensial, dapat memperkuat arah misi ini melampaui perubahan politik jangka pendek.
Pada akhirnya, misi Skyfall adalah risiko yang telah diperhitungkan: dorongan untuk menguji kemampuan nuklir di luar angkasa, bahkan jika penempatan helikopter di Mars dirasa sekunder. Jika berhasil, hal ini akan membuka jalan bagi misi yang lebih cepat dan ambisius di seluruh tata surya dan sekitarnya.




















