Penelitian baru menunjukkan bahwa mikrobioma usus mungkin memainkan peran yang mengejutkan dalam penuaan otak, yang berpotensi menjelaskan mengapa beberapa orang mempertahankan fungsi mental yang tajam hingga usia tua sementara yang lain mengalami penurunan kognitif. Sebuah penelitian yang dilakukan pada tikus mengungkapkan hubungan langsung antara bakteri usus dan kinerja kognitif, meningkatkan kemungkinan terapi kehilangan memori di masa depan.

Koneksi Tak Terduga

Para peneliti di University of Pennsylvania mengamati bahwa tikus muda yang tinggal bersama dengan tikus yang lebih tua menunjukkan gangguan kemampuan kognitif. Hal ini mengarahkan mereka untuk menyelidiki apakah bakteri usus merupakan faktor penyebabnya. Temuannya sangat mengejutkan: tikus muda yang terpapar bakteri usus dari tikus yang lebih tua memiliki kinerja tes kognitif yang jauh lebih buruk, mencerminkan penuaan otak dini. Namun, efeknya terbalik ketika tikus muda diberi antibiotik, atau ketika tikus tua dibesarkan di lingkungan yang steril, sehingga fungsi memorinya tetap baik.

Parabacteroides goldsteinii Diidentifikasi sebagai Pemain Kunci

Penelitian tersebut menunjukkan Parabacteroides goldsteinii sebagai penyebab utama. Memperkenalkan spesies bakteri ini kepada tikus muda yang bebas mikroba mengakibatkan penurunan kognitif. Mekanismenya tampaknya melibatkan peradangan yang dipicu oleh bakteri, yang dapat mengganggu saraf vagus—jalur komunikasi penting antara usus dan otak. Merangsang saraf vagus meningkatkan kinerja kognitif pada tikus, memperkuat hubungan antara kesehatan usus dan fungsi otak.

Mengapa Ini Penting

Penelitian ini didasarkan pada bukti yang ada yang mengkonfirmasi “poros mikrobiota-usus-otak” memiliki pengaruh signifikan terhadap fungsi otak. Penelitian ini penting karena memberikan jalur mekanistik yang lebih jelas tentang bagaimana bakteri usus mempengaruhi kognisi.

“Apa yang ditambahkan oleh penelitian ini adalah jalur mekanistik yang lebih jelas,” kata John Cryan, seorang profesor di University College Cork, menyoroti pentingnya temuan ini.

Implikasi pada Manusia dan Terapi di Masa Depan

Meskipun dilakukan pada tikus, temuan ini memiliki potensi implikasi pada manusia. P. goldsteinii terdapat dalam mikrobioma usus manusia, meskipun peran spesifiknya dalam penurunan kognitif masih belum diketahui. Stimulasi saraf vagus, yang sudah menjadi pengobatan yang disetujui untuk kondisi seperti stroke dan epilepsi, dapat dieksplorasi sebagai metode untuk melawan penurunan kognitif terkait usia.

Namun, para peneliti memperingatkan agar tidak mengambil kesimpulan langsung tentang perilaku manusia. Tikus terlibat dalam coprophagy (memakan kotoran), sebuah perilaku yang tidak biasa terjadi pada manusia, sehingga membuat terjemahan langsung dari temuan penelitian ini menjadi menantang. Penelitian dan uji klinis yang lebih besar diperlukan untuk menentukan apakah mekanisme serupa berlaku pada manusia.

Studi ini menggarisbawahi semakin berkembangnya pemahaman bahwa kesehatan usus sangat terkait dengan kesehatan otak, sehingga membuka jalan baru untuk mencegah dan mengobati masalah kognitif terkait usia.